Heading News

13 Feb 2014 13:40

Urgensi Konservasi Muria

Suara Merdeka (13/02/2014) - Banjir yang melanda kawasan pantura menjadi bagian dari rentetan bencana alam di negeri ini. Banjir lebih dari sepekan mengepung Pati, Kudus dan Jepara, mengakibatkan jalur pantura Jawa terputus.

Jalur Semarang � Kudus tertutup genangan air di daerah Tanggulangin dan terminal induk Kudus. Rute transportasi Semarang � Jepara terisolasi oleh banjir di Welahan.

Bencana banjir di lereng Muria mengingatkan tentang sejarah kawasan tersebut yang terpisah dari Pulau Jawa. Peta Jawa warisan kolonial Belanda mengindikasikan tentang kawasan Muria yang terpisah oleh rawa-rawa dan selat. Tentu, tipologi tanah yang rendah menjadi salah satu alasan banjir lama menggenang.

Warga di sekitar kawasan Muria setidak-tidaknya menanggung dua bencana. Pertama, bencana alam. dan kedua, berkabung atas wafatnya Kiai Sahal Mahfudh. Ulama karismatik tersebut berpulang pada Jum�at (24/1/2014) berbarengan ketika akses menuju Pati terputus oleh banjir. Kepergiannya menjadi refleksi penting tentang sikap ulama, pemberdayaan masyarakat dan konsistensi dalam menjaga prinsip

Dari banjir yang terjadi awal 2014 ini, setidaknya kita perlu mengetengahkan refleksi atas lingkungan. Pemerintah di kawasan lereng Muria ( Pemkab Kudus, Pati dan Jepara) perlu bergerak cepat untuk program konservasi hutan. Selain itu, merawat sungai agar tidak terjadi banjir yang lebih besar pada kemudian hari.

Bencana banjir yang terjadi di kawasan utara Jawa, tepatnya di daerah Kudus, Jepara dan Pati, perlu penanganan cepat. Konservasi lingkungan di kawasan pegunungan Muria menjadi kata kunci. Program konservasi lingkungan secara terpadu akan menjadi kebijakan penting untuk menanggulangi bencana banjir dan tanah longsor di masa mendatang.

Kawasan Muria, berfungsi sebagai hutan lindung, dan sebagai daerah resapan air. Selain itu, lereng Muria menjadi habitat flora fauna, serta sebagai daerah permukiman. Akan tetapi kerusakan hutan di lereng Muria membuat trenyuh mengingat tumbuhan makin berkurang karena penebangan liar.

Degradasi Hutan

Data Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jawa Tengah menunjukkan kawasan Muria mengalami degradasi dari tahun ke tahun. Total luas hutan di kawasan itu 69.812,08 ha, terdiri atas hutan Jepara 21.516,406 ha namun 17.954 ha atau 83% diantaranya gundul, termasuk 3.962,66 ha hutan lindung.

Di Kabupaten Pati 47.338 ha namun 38.344 atau 81% rusak, termasuk 1.425 ha hutan lindung. Sementara di Kabupaten Kudus, 83% atau 1.940 hutan rusak, termasuk 53,93 ha hutan lindung.

Catatan tentang kerusakan hutan di kawasan lereng Muria ini menjadi sinyal penyebab banjir di daerah Kudus, Jepara dan Pati. Berkurangnya luas hutan sebagai daerah resapan, menyebabkan air hujan meluncur menuju sungai-sungai di lereng pegunungan ini. Padahal kondisi sungai-sungai di lereng Muria tidak terawat dengan baik.

Sungai Gelis di Kudus dan sungai Juwana di Pati makin dangkal dan dipenuhi sampah. Tentu, hal ini menjadi keprihatinan bersama mengingat efek dari kerusakan lingkungan tersebut menyebabkan bencana menjadi makin parah.

Untuk itu, perlu ada program konservasi secara terintegrasi dari pemerintah di kawasan lereng Muria dan pendidikan sadar lingkungan untuk warga. Usaha penanggulangan bencana tidak berjalan efektif jika hanya program bersifat sementara, yang dilakukan sebagai reaksi atas banjir dan tanah longsor.

Kesadaran tentang pentingnya menjaga lingkungan perlu dihadirkan di ranah pendidikan, dengan menjadi kurikulum lokal atau wawasan bagi pendidik. Pendidikan sadar lingkungan merupakan alternatif menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menjaga alam. Pada titik ini, konservasi Muria menjadi prioritas utama untuk program penanggulangan bencana di pantura timur Jawa Tengah. (Siti Munthiatun, pendidik, tinggal di Pati)

"Air itu Hidupku, Sungai itu Nadiku, Maritim Adalah Budayaku"
- BPUSDATARU Seluna
Close