Heading News

15 Dec 2013 11:55

Banjir : Antara Hikmah, Berkah dan Musibah

Kudus - Musim hujan sudah dihadapan mata. Dan ketika bicara hujan maka yang terbesit dalam benak dan pikiran warga Kudus dan Demak adalah banjir. Kata banjir bagi warga kedua kota tersebut imej-nya identik dengan bencana. Padahal banjir apabila dikelola dengan bijaksana tentu akan bisa menjadi berkah. Anggapan itu bukan tanpa alasan. karena pengalaman pahit telah dirasakan warga di daerah langganan banjir ini. Setidaknya banjir besar tahun 2007 yang melanda wilayah Kudus bagian selatan tidak hanya merendam puluhan ribu rumah warga Undaan dan Mejobo. namun juga memupuskan harapan petani yang siap panen berbalik gagal total, karena ratusan hektar padi siap panen tergenang banjir.

Begitu halnya banjir tahun 2013 yang melanda warga daerah Mijen dan Wedung Demak. Jebolnya tanggul kanan Sungai Wulan mengakibatkan ribuan warga diungsikan. Ratusan hektar areal pertanian tidak dapat diselamatkan.

Dari dua kejadian bencana banjir terakhir itulah yang selalu membuat trauma warga di sepanjang Sungai Wulan. Sehingga setiap kali memasuki bulan-bulan penghujan, perasaan khawatir dan was-was tidak dapat disembunyikan. Setidaknya itu yang dirasakan Sarmin (65 tahun) salah satu warga desa Medini Undaan Kudus. Setiap kali mendung tebal menggayut di wilayah Selatan atau hulu Sungai Serang, kecemasan nampak di raut muka warga yang kesehariannya sebagai buruh tani ini. dan setiap kali mendengar Debit Sungai Wulan mengalami peningkatan, berulangkali sarmin naik-turun ke tanggul untuk melihat kondisi terakhir debit Sungai Wulan.

Teringat masa kecilnya, mbah Men begitu panggilan akrabnya, menceritakan bahwa dulu sepanjang tahun, Sungai Wulan airnya penuh adalah hal yang biasa. Bahkan dengan teman sepermainan waktu kecil mbah min biasa berenang di sungai dan ikut memandikan kerbau milik tetangganya di pinggiran sungai. Tapi kini kondisinya sudah berbalik dan sangat memprihatinkan. Disaat kemarau sungainya kering dan pada musim hujan air datang dengan cepat dan debitnya langsung besar.

Di negara kita yang hanya mengenal dua musim, kemarau dan penghujan. Banjir memang jadi �agenda alam� rutin tahunan. Karena bisa dipastikan banjir datang setiap tahun. Kejadian demi kejadian berulang dan terus berulang. Transportasi terputus, perekonomian lumpuh, datangnya gangguan kesehatan, sarana prasarana hancur adalah pemandangan yang sering kita lihat di daerah yang terkena bencana banjir.

Lalu apa yang harus kita lakukan ?.

Kita harus berbenah. Mengubah pola pandang banjir sebagai penghambat, banjir sebagai sumber masalah dan puncaknya banjir sebagai bencana. Banjir adalah sunnah alam. kedatangannya tidak dapat ditolak, keberadaanya tidak dapat disalahkan. Saling menuding dan menyalahkan itu masa lalu. Tak cukup kita hanya bicara dan ber-agumen. Mbah Men-mbah Men lain tak sekadar butuh makan dan mata pencaharian. Namun terlepas dari semua itu mereka ingin bebas dari belenggu pikiran seperti kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan acapkali musim hujan datang.

Kini, dibutuhkan kearifan berfikir dan langkah nyata dari kita semua. Tidak cukup hanya larangan membuang sampah di sungai atau sekedar mengadakan upacara penanaman pohon dan memperbanyak ruang terbuka hijau, dll. Namun tidak mengurangi pentingnya upaya di depan tadi ada satu hal yang tidak bisa diabaikan, yaitu keteladanan. Betapa tidak, di masyarakat sekarang ini melanggar aturan hukum seakan menjadi hal lumrah. Budaya santun dalam menyelesaikan masalah menjadi barang mahal. Semua merasa paling benar dengan memaksakan kehendak sendiri.

Untuk itu diperlukan kesadaran dan niat baik dari semua pihak. Keteladanan cara berfikir, berbicara dan bertindak dalam menyelesaikan masalah, secara tidak langsung dapat menjadi tuntunan arif tanpa mendikte dan menggurui pihak lain. Jika hal ini dimulai dari sekarang, maka ke depan bukan hal yang mustahil akan kita saksikan sebuah tatanan masyarakat yang berbudaya, bermartabat, menghormati hukum dan mengedepankan azas kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah, sehingga harapan kita tidak ada lagi warga membuang sampah di sungai, mananam pohon di atas tanggul-tanggul banjir atau sengaja mendirikan bangunan di atas bantaran sungai.

Akhirnya, kita harus sepakat untuk bisa memetik hikmah dan meraih berkah dari setiap kali ada musibah. Banjir bukan kiamat tapi dengan sentuhan keilmuan dan kearifan anak bangsa ini, banjir bisa menjadi sahabat. Maka, kedepan tak mengherankan lagi jika setiap kali musim penghujan datang, anak cucu mbah Men akan bersorak dan mengucapkan � Selamat Datang Banjir � (lek rif/dbase)

"Air itu Hidupku, Sungai itu Nadiku, Maritim Adalah Budayaku"
- BPUSDATARU Seluna
Close